Sixteen Candles, 1984

Remaja itu tidaklah terlalu dewasa untuk paham berbuat culas maupun menyakiti sesama dan mengingatkan kita, bahwa memang beginilah seharusnya masa remaja, belajar, naksir dan memiliki sahabat

Seorang remaja putri, Samantha berulang tahun yang ke 16. Namun ayah, ibu, adik-adiknya dan kakaknya bahkan dua pasang nenek kakeknya juga tidak ada yang ingat.Keluarga Sam disibukkan oleh pernikahan kakaknya, Ginny yang akan diadakan keesokan harinya.

Di college, Sam naksir kakak kelasnya, Jake Ryan yang tampan dan populer, sementara itu seorang geek dan nerd bernama Ted juga suka godain Sam untuk memenangkan pertahuran dengan sahabat-sahabatnya.

Film ini merupakan film remaja yang populer di tahunnya dan disutradarai oleh John Hughes yang populer saat itu sebagai sutradara yg sukses membuat film-film remaja bermutu.

Dalam kolaborasinya dengan Molly Ringwald, baik sebagai penulis, sutradara maupun produser, John Hughes menghasilkan film-film yang patut dikenang seperti Breakfast Club, Pretty in Pink.

Film ini dibuka dengan adegan yang khas suatu keluarga, perebutan kamar mandi maupun sang ibu yang heboh menyambut pernikahan anak gadisnya.

Sementara itu, tidak dapat disangkal, bahwa Moolly Ringwald merupakan artis muda yang charming, kocak dan sweet di masanya. Gaya bicaranya yang manisjuga terkadang kocak membuat penonton bersimpati padanya.

Adegan dialog yang panjang (scene Sam duduk dalam mobil dengan Ted sembari Ted menceritakan rahasianya dan meminjam celada dalam Sam) juga tidak menjadi boring oleh John Hughes. Di manaJohn Hughes menyelipkan dialog yang lucu dan tidak repeated oleh tokoh-tokohnya.

Kehadiran Anthony Michael Hall (aktor ini juga salah satu langganan untuk film-film John Hughes) menambah kocak dan hidup suasanan. Gayanya yang kocak dan kadang menyebalkan membuat penonton ingin menjitak maupun merangkulnya.

Mungkin yang agak annoying adalah akting dari Michael Schoeffling pemeran Jake Ryan yang terlihat terlalu tua dan dewasa. Belum lagi gaya bicara dan gesture tubuhnya yang kaku, kurang menarik untuk dilihat.

Dan juga adegan sang kakak Ginny di gereja menjelang menikah.  Ketika dia berjalan di altar kesannya sedang mabok bukan karena cold feet menjelang pernikahan. Adegan Ginny tersebut sangat menganggu, hampir 3 menit, di mana dia duduk di kursi perserta, lalu merobek bagian dalam gaunnya, jalan seperti orang mabok, annoying

Sekarang film remaja jarang sekali melirik hal-hal yang sederhana seperti di film ini, sekarang film remaja diisi dengana dengan perseteruan dan gaya-gayaan yang terkesan hedonis sehingga kehilangan masa remaja yang kocak dan kekanak-kanakan.

Overall, film ini mengingatkan kita bahwa remaja itu tidaklah terlalu dewasa untuk paham berbuat culas maupun menyakiti sesama dan mengingatkan kita, bahwa memang beginilah seharusnya masa remaja, belajar, naksir dan memiliki sahabat….

My rate : 7.80

About ceritafilm

I am a writer and movie maniac
This entry was posted in Movie. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s