Foto Istana Maimun

Image

Hari ini aku melihat foto Istana Maimun hasil jepretanku masuk ke dalam list Tempat Tempat Populer di Indonesia yang harus dikunjungi yang dilakukan oleh burufly.com

Foto itu aku jepret pagi hari sekitar jam 6 an… Aku sendirian naik becak ke Istana Maimun tersebut dan bertemu dengan beberapa anak anak yang menatapku dengan heran.

Kemudian aku tersenyum pada mereka, dan mereka membalas senyumku dengan malu malu. Itulah arti senyum. Yang tadinya tatapan heran plus curiga menjadi bersahabat. Bahkan anak anak itu membantuku membawa tripod dan perlengkapan lainnya. mereka juga berpose untuk fotoku. Dan tak lupa mereka mengatakan “datang lagi ya Kak”

Foto itu aku jepret dengan bantuan anak anak tersebut. Bangga karena foto itu mejeng di front page burufly.com

Posted in Movie | Leave a comment

The Voice of : Radical Revision of Talent Show

Saya jarang nonton TV karena tayangannya tidak begitu menarik perhatian saya. Apalagi belakangan ini acara reality singing talent show agak menjadi bias karena bukan hanya suara ataupun teknik menyanyi yang kadang dijadikan pertimbangan namun sering kali justru gesture maupun fisik para peserta. Suatu hari saya menonton The Voice of Indonesia. Hati saya tergugah menonton acara ini. Karena formatnya tidak bisa. Dari manakah asalnya talent show ini? Ternyata sang pionir acara talent show spectakuler ini adalah Belanda. Pertama kali disiarkan di Belanda pada tahun 2010 dengan judul The Voice of Holland.

 The-Voice-NBC_20110406112636-e1302089509795

Menurut hemat saya, kelebihan kelebihan pada acara TheVoice merupakan revisi yang cukup radikal terhadap talent show sejenis. Sehingga acara show ini memang lebih humanis, lebih jujur, lebih menonjolkan bakat yang dimilki peserta. Sejauh ini keunggulannya sbb:

 1. Saat kontestan bernyanyi, para coaches membelakangi kontestan yang notabene mereka tidak melihat para kontestan. Keputusan coaches berdasarkan suara dan teknik menyanyi, tidak bias dengan bentuk wajah maupun tubuh. Setelah babak demi babak, yang tersisa adalah para kontestan terbaik. Jadi, pemirsa memilih lebih kepada selera karena seluruh kontestan pada babak Live Show memang yang terbaik.

 2. Konsep coaches. Peserta memiliki coach. Sebenarnya X Factor juga mengusung konsep yang sama. Namun kelebihan the Voice, coach memilih saat blind audition.

 3. Lebih jujur. Dengan konsep peserta dinilai berdasarkan suara dan teknik vokal, The Voice menghadirkan acara yang lebih jujur

 Menurut data Imdb, rating The Voice di Amerika merupakan acara talent show tertinggi dibandingkan dengan acara sejenis lainnya seperti X Factor dan Idols. The Voice mendapatkan nilai rating sebesar 6.5, sementara X Factor 5.0 dan Idols 4.1. Hal ini membuktikan bahwa talent show asal negeri kincir angin ini lebih diminati karena lebih rasional.

John_de_Mol_jr

 The Voice of ini merupakan ciptaan seorang Belanda bernama John De Mol. Beliau merupakan pioner dalam merombak Talent Show menjadi lebih kompeten dan disesuaikan dengan peruntukannya. Meski acara ini masih seumur jagung, yaitu 2010, namun hingga saat ini terhitung 49 negara termasuk Indonesia mengudarakan acara talent show ini yang diberi judul awal The Voice dan diikuti dengan nama negara masing-masing. Bahkan acara ini telah mengalami diversifikasi yaitu dengan adanya acara The Voice Kids yang diperuntukkan bagi anak anak.

 Siapakah John De Mol? Beliau adalah seorang tycoon media. Namun menurut hemat saya, beliau adalah seorang kreatif, inovator dan pebisnis sejati. Bagaimana John De Mol sampai pada proses kreatif tersebut? Tentunya itu tidak terjadi dalam sehari. Namun merupakan akumulasi dari keputusan keputusan penting yang telah dilakukannya di masa lalu. John De Mol tentunya melihat keinginan masyarakat akan tayangan yang lebih honest.

Oleh : Nana Sitompul

 

 Referesi

 1.  http://en.wikipedia.org/wiki/John_de_Mol

2.  imdb

3.  http://en.wikipedia.org/wiki/The_Voice_of_Holland

Posted in Movie | Leave a comment

The Voice of : Radical Revision of Talent Show

Saya jarang nonton TV karena tayangannya tidak begitu menarik perhatian saya. Apalagi belakangan ini acara reality singing talent show agak menjadi bias karena bukan hanya suara ataupun teknik menyanyi yang kadang dijadikan pertimbangan namun sering kali justru gesture maupun fisik para peserta. Suatu hari saya menonton The Voice of Indonesia. Hati saya tergugah menonton acara ini. Karena formatnya tidak bisa. Dari manakah asalnya talent show ini? Ternyata sang pionir acara talent show spectakuler ini adalah Belanda. Pertama kali disiarkan di Belanda pada tahun 2010 dengan judul The Voice of Holland.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menurut hemat saya, kelebihan kelebihan pada acara TheVoice merupakan revisi yang cukup radikal terhadap talent show sejenis. Sehingga acara show ini memang lebih humanis, lebih jujur, lebih menonjolkan bakat yang dimilki peserta. Sejauh ini keunggulannya sbb:

 

1. Saat peserta/kontestan bernyanyi, para coaches berbalik membelakangi peserta/kontestan yang notabene mereka tidak melihat para kontestan. Keputusan coaches benar benar berdasarkan suara dan teknik menyanyi, tidak bias dengan bentuk wajah maupun tubuh. Babak ini disebut dengan Babak Blind Audition

 

2. Talent show ini menggunakan babak seleksi yang sangat ketat. Setelah babak Blind Audition, peserta akan ikut babak selanjutnya yaitu Battle. Pada babak ini, coaches telah mengarahkan/membagi ilmunya pada peserta sehingga dapat tampil lebih baik. Babak ini juga merupakan pilihan coach, bukan pemirsa yang kadang sering bias dalam memilih. Jadi pada babak ini, hanya yang terbaik yang lolos.

 

3. Pada babak Live Show yaitu babak yang merupakan pilihan pemirsa, kontestan yang tersisa memang yang benar benar terbaik. Sehingga dalam hal ini, alasan pemirsa memilih hanya lebih kepada selera karena seluruh kontestan pada babak Live Show memang yang terbaik.

 

4. Konsep coaches. Peserta memiliki coach. Sebenarnya X Factor juga mengusung konsep yang sama. Namun kelebihan the Voice, coach memilih saat blind audition.

 

Menurut data Imdb, rating The Voice di Amerika merupakan acara talent show tertinggi dibandingkan dengan acara sejenis lainnya seperti X Factor dan Idols. The Voice mendapatkan nilai rating sebesar 6.5, sementara X Factor 5.0 dan Idols 4.1. Hal ini membuktikan bahwa talent show asal negeri kincir angin ini lebih diminati karena lebih rasional.

 

The Voice of ini merupakan ciptaan seorang Belanda bernama John De Mol. Beliau merupakan pioner dalam merombak Talent Show menjadi lebih kompeten dan disesuaikan dengan peruntukannya. Meski acara ini masih seumur jagung, yaitu 2010, namun hingga saat ini terhitung 49 negara termasuk Indonesia mengudarakan acara talent show ini yang diberi judul awal The Voice dan diikuti dengan nama negara masing-masing. Bahkan acara ini telah mengalami diversifikasi yaitu dengan adanya acara The Voice Kids yang diperuntukkan bagi anak anak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Siapakah John De Mol? Beliau adalah seorang tycoon media. Namun menurut hemat saya, beliau adalah seorang kreatif, inovator dan pebisnis sejati. Bagaimana John De Mol sampai pada proses kreatif tersebut? Tentunya itu tidak terjadi dalam sehari. Namun merupakan akumulasi dari keputusan keputusan penting yang telah dilakukannya di masa lalu. John De Mol tentunya melihat keinginan masyarakat akan tayangan yang lebih honest.

 

Referesi

 

  1. imdb
  2. http://en.wikipedia.org/wiki/John_de_Mol
  3. http://en.wikipedia.org/wiki/The_Voice_of_Holland
Posted in Movie | Leave a comment

Dutch Pioneering: Education is power

Ketika saya kelas dua SMA, saya sempat tidak ingin sekolah. Saya ingin bekerja sebagai penulis. Lalu Ompung (kakek) bercerita bahwa jaman dulu sangat sulit bersekolah dan saya termasuk beruntung karena sekarang bersekolah lebih mudah. Dulu, hanya golongan tertentu yang bisa bersekolah. Beliau pun hanya mengecap pendidikan dasar di sekolah Belanda (HIS) di Sibolga pada tahun 1910. Beliau merasakan pentingnya sekolah. Hal itu juga yang dia tanamkan kepada generasi berikutnya, pendidikan itu kekuatan (education is power). Attitute tersebut beliau dapatkan berkat pendidikan Belanda yang dia terima.

 Meski pendudukan Belanda di Indonesia membuat Indonesia sengsara, namun tidak dapat dipungkiri Balanda juga adalah pionir yang memperkenalkan pendidikan formal di Indonesia. Setelah pemberlakuan politik Etis di Indonesia, Belanda mulai melakukan pengembangan pendidikan bagi warga pribumi. Indonesia merasakan manfaat pendidikan. Salah satu pionir Belanda yang sangat berjasa dalam kelangsungan pendidikan di Indonesia saat itu adalah J.H. Abendanon (1852-1925), Menteri Kebudayaan, Agama, Kerajinan selama 1900-1905. Thomas Karsten, merupakan pioneer Arsitektur di Indonesia dan pengajar Planologi di Technische Hoogeschool te Bandoeng (Institut Teknologi BandungITB).

 sekolah

Selain sekolah dasar, menengah dan sekolah atas, Belanda juga merintis perguruan tinggi. Beberapa perguruan tinggi rintisan Belanda antara lain:

No Nama

Daerah

Tahun

1

School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (Sekolah Dokter Bumi Putera)

Batavia

1902

2

NIAS (Nerderlandsch Indische Artsen School)

Surabaya

1913

3

Technische Hooge School (THS) *sekarang adalah ITB

Bandung

1920

4

(Recht hooge School) Fakultas Hukum di Indonesia *embiro Universitas Indonesia

Jakarta

1924

5

sekolah tinggi pertanian (Landsbouwkundige Faculteit) *embrio IPB

Bogor

1941

Dalam hal pendidikan, Belanda tidak diragukan lagi. Hal ini terbukti dengan banyaknya ilmuwan Belanda yang meraih Nobel Prize. Tak kurang dari 19 ornag tokoh / ilmuwan Belanda yang mendapatkan Nobel Prize dalam bidang Kimia, Fisika, medicine maupun Pedamaian. Begitu juga beberapa seniman besar dunia berasal dari Belanda seperti Rembrandt.

 12280341-netherlands--circa-1991-a-stamp-printed-in-the-netherlands-shows-jacobus-h-van-t-hoff-dutch-nobel-pr

Saat ini Belanda merupakan salah satu tujuan sekolah yang banyak diminati. Hal ini dikarenakan Belanda mampu menjadi pioner dalam bidang teknologi maupun bidang lainnya. Belanda merupakan negara yang berada di bawah permukaan air yang notabebene sangat rawan tergilas oleh air. Hal tersebut membuat Belanda berpacu untuk menghasilkan ilmuwan/ pioneer dalam hal inovasi teknologi, mesin, electricity maupun finansial. 

Belanda juga merupakan negara multietnis, sehingga pendidikan Belanda juga terbuka bagi negara dan suku manapun. Banyaknya beasiwa yang ditawarkan Belanda juga merupakan daya tarik tersendiri bagi peminatnya. Apalagi Belanda juga merupakan negara pelopor yang menggunakan bahasa Inggris di perguruan tinggi sehingga memudahkan mahasiswa asing. 

Saat ini pendidikan di Belanda merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Belanda memiliki 12 universitas maupun institut yang termasuk dalam daftar 200 universitas terbaik di seluruh dunia. Hanya Amerika Serikat dan United Kingdom yang memasukkan lebih dari 12 universitas dalam daftar 200 tersebut.

chart_p6_041012

Pendidikan Belanda juga memimpin dalam hal Matematika, Science, dan Reading di dunia, mengalahkan negara lain terutama negara Amerika Serikat. Saat ini, menurut data nuffic, jumlah siswa asing yang sekolah di Belanda sebesar 12.6 persen. Persentase tersebut sebagai bukti bahwa Belanda masuk dalam top ten negara dengan pendidikan yang paling diminati oleh mahasiswa asing yaitu pada urutan ke depalan yang paling diminati.

 Netherlands-PISA

Jadi tidak berlebihan rasanya apabila menyatakan bahwa terobosan Belanda dalam mutu pendidikan melahirkan banyak pioner pioner yang memajukan perekonomian, teknologi dan ilmu pengetahuan di dunia. Belanda tahu benar bahwa, Education is power.

Oleh : Nana Sitompul

 Referensi:

1.             http://goo.gl/Oa314

2.             http://goo.gl/kBnaE

3.             http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_perguruan_tinggi_di_Indonesia

4.             http://goo.gl/cdItI

5.             http://www.lihat.co.id/2012/12/10-negara-yang-terbanyak-menjadi-tujuan.html

6.             http://goo.gl/tGaCf

 

 

Posted in Movie | Leave a comment

SKYFALL, 2012

 

James Bond kembali beraksi. Kali ini bukan mengangani teroris ala “america” dengan segala tendensi kepada dunia Islam/Arab maupun Rusia.  Kali ini missi sang agent 007 itu adalah untuk mengambil kembali disk yang berisi daftar nama agent yang menyamar di organisasi teroris dunia. Disk tersebut jatuh ke tangan orang yang tak terduga dan juga untuk tujuan yang tidak terduga.

Tema film ini adalah loyalitas. Setiap tokoh disini diuji loyalitas mereka satu sama lain. Apakah James Bond kali ini mampu melaksanakan tugasnya dengan cemerlang seperti sebelumnya sebagai agent ganda dengan seri 007?

Film ini disutradarai oleh Sam Mendes, salah satu sutradara terbaik Inggris saat ini  (American Beauty, Road to Perdition and Revolutionary Road) dan scenario ditulis oleh John Logan, Neal Purvis, and Robert Wade.

Seperti kata pepatah, tidak ada yang lebih memahami uniknya orang Inggris dan segala tetek bengek mereka selain mereka sendiri. Karena itu pemilihan Mendes sebagai sutradara sangatlah tepat. Mengingat film ini kembali lagi ke era Inggris dengan segala bangunan, sikap aristrokat, historical, kesopanan dan juga manner yang luar biasa.

Opening title merupakan adegan yang menjanjikan dengan menampilkan sedikit bocoran tentang apa film ini sebenarnya dan di mana lokasinya (mirip dengan penyajian opening title Mission Impossible IV) hanya saja ini lebih terasa personal dan touchy.

Adegan demi adegan mengingatkan kita kemegahan era Spy di film film Bond terdahulu. Bond yang rapi, terampil, memiliki kualitas humor yang tidak biasa dan segala tetek bengek detail yang menunjukkan bahwa dia orang Inggris. Bahkan film ini berhasil menampilkan Bond yang lebih garang, intelek dan cool.

Yah beberapa penonton kecewa dengan pemilihan villain yang terasa bagi mereka kurang WAH. Mana penjahat jaket kulit dengan wajah sangar dan seidkit brewokan? mmm mungkin penjahat kelas itu adanya di film film action kelas B. Penjahat di film James Bond ini lebih “berkelas” menunjukkan bahwa kelas dia sama dengan James Bond bahkan mungkin lebih. Penjahat di film Bond juga menggunakan jas rapi dengan wajah bersih dan bagus tanpa harus di tato aau dirusak agar lebih sangar. Tidak. Penjahat di film Skyfall tampil elegan dan rapi seperti pemeran protagonisnya.

Penampilan Javier Bardem sebagai penjahat Raoul Silva terasa sangat tepat (meski awalnya Mendes menginginkan Kevin Spacey yang mengisi peran villain itu). Bardem tampil seperti bunglon di film ini. Dari penjahat dengan efek psikologis yang sangat kental hingga menjadi villain yang kelelahan secara emosional.Penonton diajak untuk melihat Javier Bardem sekali lagi berperan mencekam seperti perannya di No Country For The Old Men yang fenomenal dengan gaya rambutnya itu. Di film ini tak lupa Bardem juga tampil dengan gaya rambut mencolok, yaitu Blonde dan gaya berbusana yang elegan.

Beberapa adegan yang sangat memorable adalah adegan di gedung dengan latar belakang ubur-ubur. Bagus sekali. Kemudian adegan melihat lukisan bersama Ben Whishaw, meski sebentar tapi cukup berkesan. Kemudian adegan ketika 007 berdiri di atas gedung dan memandang ke depan sementara bendera Inggris menggantung di salah satu gedung. Menunjukkan citra bahwa mitos “007” ini adalah milik kaum British.

Penampilan pemain pendukung yang sebagian besar sangat maksimal, meski tampil hanya sebagian sebagain saja seperti Judi Dench, Ola Rapace, Albert Finney, Ralph Fiennes, Naomie Harris, Ben Whisaw, namun penampilan mereka sangat menonjol. Penampilan bagus para pemain pendukung ini mengingatkan penulis dengan pemain pendukung di film The Shawshank Redemption maupun The Shutter Island. Dan Judi Dench, Dnaiel Craig dan Javier Bardem adalah nyawa utama film ini dari segi karakter.

Mungkin sedikit kekurangan film ini, tapi sebenarnya tidak mengganggu dan tentu saja bisa di maafkan. Penampilan kedua Bond Girls yang terasa kurang maksimal. mereka hadir hanya sebagai pelengkap saja atau pemanis/tempelan film, terutama kehadiran Benerice Marlohe yang tidak se greget Naomie Harris (Naomie Harris masih memiliki Chemistry yang bagus dengan James Bond/Daniel Craig).

Dan sedikit mengganggu, hanya minor, adalah adegan penangkapan dan pelepasan yang rasanya sudah biasa ada di film film aksi lainnya terasa sedikit basi. Namun untungnya Javier Bardem mampu menyikapi itu dengan tampilan uniknya bersama Daniel Craig.

Overall, setelah dihibur dengan film Casino Royale era Daniel Craig yang tampil bagus, penonton dihempaskan dengan munculnya film Bond berikutnya yaitu Quantum of Solace yang terasa hambar seperti masakan tanpa garam. Dan kini penonton diangkat kembali ke tingkat pengharapan film Bond terbaik era Daniel Craig. Yes, rasanya tidak berlebihan bila penulis menobatkan film ini film terbaik Daniel Craig sebagai agent 007.

My Rate : 09.00

 

Posted in Movie | Leave a comment

End of Watch, 2012

Film ini tidak menampilkan sisi abu abu, hitam dan putih polisi itu sendiri, tapi menampilkan polisi sebagai satu manusia utuh dan personal

Bercerita tentang dua orang polisi patroli di LAPD yaitu Brian Taylor (Jake Gyllenhaal) dan Mike Zavala (Michael Pena). Taylor memiliki hobi merekam dan di awal film disebutkan bahwa dia sedang mengikuti kelas film. Sentara itu, Zavala adalah tipikal polisi sehari hari dengan keluarga yatu istri yang sedang mengandung

Pekarjaan mereka sehari hari adalah memenuhi panggilan seperti masyarakat yang kehilangan anaknya. Seorang anak yang khawatir dengan ibunya, maupun pesta narkoba antar gan

Suatu hari mreka berhasil menyita senjata mahal dan juga obat-obatan. Mereka juga berhasil menemukan barang yang menghubungkan dengan kartel obat-obatan terlarang Mexico.

Film ini disutradarai dan ditulis oleh David Ayer (Harsh Times, Street Kings). David Ayer juga adalah penulis film Training Day yang mentasbihkan Denzel Washington sebagai aktor terbaik di ajang Oscar melalui film itu.

David Ayer memang kental menghadirkan suasana polisi di setiap filmnya. Tidak terkecuali di film End of Watch ini. Sepasang polisi di atas menjadi karekater di filmnd of Watch yang mewakili kulit putih dan hispanik.

Film ini di Shoot dengan gaya penggunaan kamera milik Brian karena dia sedang melakukan project untuk kelasnya.Meski film ini mirip seperti Chronicles dalam hal shoot gambar namun terdapat perbedaan. Di film ini Sutradara masih menggunakan kamera pihak luar.

Meskipun film ini bercerita tentang polisi dan lika liku mereka di jalanan. NAmun film ini bukanlah film AMerican Hero seperti Die Hard yang dipenuhi adegan kejar kejaran dan tembak tembakan.Film ini lebih menampilkan sepasang polisi dengan pekerjaan mereka sehari hari. KAdang boring, kadang mereka tidak mendapat panggilan, kadang mendapat panggilan anak hilang. Dan beberapa perkejaan tetek bengek lainnyaTapi justru di situlah keunikan film ini. ilm nuansa polisi LAPD ini tampil apa adanya dan sangat realistis.

Film ini juga tidak melulu menggambarkan hubungan antar polisi yang selalu harmonis. Namun film ini juga dipenuhi dengan pertengakaran antara sesama polisi persis seperti pekerja di bidang lain.

Selain itu film ini juga mengangkat sisi pribadi tokohnya. Hubungan Mike Zavala dan istrinya dan juga hubungan Brian Taylor dengan seorang wanita bernama Janet (Anna Kendrick). Justru ditampilkannya sisi pribadi para tokoh membuat film ini makin manusiawi dan realistis.

Hubungan erat antara Zavala dan Taylor terjaga dengn baik. Kedua aktor yaitu Gyllenhaal dan Pena mampu tampil akrab dan bagus. Akting keduanya membuat film ini semakin bagus. Ditambah lagi akting pemain pendukungnya yang juga bagus seerti Frank Grillo sebagai sersan, America Ferrera sebagai rekan polisi, bahkan penampilan Anna Kendrick juga mampu mencuri hati penonton. Bahkan Jake Gylenhaal bisa tampil tidak terlalu manis dan sendu ala Brokeback Mountain. Gylenhaal mampu tampil sebagai polisi muda yang nyeleneh dengan selera joke yang sedikit kasar.

Beberapa momen bagus di film ini adalah ketika Janet bengong karena di shoot pakai kamera Taylor. Ekpresi Anna Kendrick seperti kaget, bingung dan tidak menyangka sangat mengesankan. Kemudian adegan lainnya adalah ketika Zavala dan Tayloor berlari dari kejaran gangster Hispanik.

Film ini tidak menampilkan ending yang lebai atau cheesy. Film ini menampilkan ending yang realistis dan beralasan. David Ayer mampu menghadirkan polisi sebagai salah satu perkejaan juga sama seperti kerja kantoran, sebagai satu profesi yang tidak jauh beda dengan profesi lainnya. Ayer tidak terjebak dalam kamuflase film polisi yang menampilkan American Hero melawan kejahatan.  Ayer menutup film ini dengan bagus dan menyentuh.

Overall, bila ingin melihat police story yang lebih realistis, sangat disarankan untuk menonton film ini. Film ini tidak menampilkan sisi abu abu, hitam dan putih polisi itu sendiri, tapi menampilkan polisi sebagai satu manusia utuh dan personal.

My Rate : 8.35

Posted in Movie | Leave a comment

Prometheus, 2012

Ridley Scott

Posted in Movie | Leave a comment